Sabtu, 06 Desember 2014

PEWARNAAN GRAM

Metode pewarnaan pertama kali ditemukan oleh Christian Gram pada tahun 1884. Metode ini mengelompokkan bakteri menjadi dua, yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh komposisi dinding selnya sehingga pewarnaan gram tidak bias dilakukan pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel seperti Mycoplasma sp (Tryana, 2008).
Pewarnaan gram adalah suatu metode untuk membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding selnya. Pemberian Kristal violet pada bakteri gram positif akan meninggalkan warna ungu muda, perbedaan respon bakteri didasarkan pada struktur dan komposisi dinding sel bakteri. Bakteri gram positif mengandung protein dan gram negatif mengandung lemak dalam presentasi lebih tinggi dan dinding selnya tipis. Pemberian alkohol (etanol) pada pratikum pewarnaan bakteri, menyebabkan tereksasi lipid sehingga memperbesar permeabilitas dinding sel (Syaputra, 2009).
Struktur bakteri terbagi menjadi dua yaitu (Tryana, S.T. 2008) :
1.    Struktur dasar (dimiliki hampir semua jenis bakteri)
Meliputi : dinding sel, membran plasma, sitoplasma, ribosom, DNA, dan granula penyimpanan;
2.    Struktur tambahan (dimiliki oleh jenis bakteri tertentu)
Meliputi : kapsul, flagelum, pilus, fimbria, klorosom, vakuola gas, dan endospora.
Berdasarkan bentuk morfologinya, maka bakteri dibedakan antara bebebapa bentuk (Lubis, 2008):
1.    Bentuk bola atau cocci;
2.    Bentuk batang atau bacillus;
3.    Bentuk spiral atau sprilli;
4.    Bentuk kama atau vibrios.
Jenis Gram
Bakteri gram dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1.    Gram Positif
Gram positif adalah bakteri yang mempertahankan zat warna Kristal violet sewaktu proses pewarnaan gram sehingga akan bewarna biru atau ungu dibawah mikroskop. Bakteri gam positif seperti Staphyloccocus aureus (bakteri pathogen yang umumnya terdapat pada manusia) hanya mempunyai membran plasma tunggal yang dikelilingi dinding sel tebal berupa Peptidoglikan. Bakteri gram positif memiliki dinding sel yang cukup tebal (20-80 nm) dan terdiri atas 60-100% Pepdoglikan. Dinding sel bakteri gram negatif mempunyai susunan kimia yang lebih rumit pada bakteri gram positif, salah satu contoh dari bakteri gram positif adalah Staphilococcus Aureus (Dwidjoseputro, 2003).
2.    Gram Negatif
Bakteri gram negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna kristal violet sewaktu proses pewarnaan gram sehingga akan bewarna merah bila diamati dengan mikroskop. Bakteri juga dapat dibedakan melalui teknik pewarnaan gram. Teknik pewarnaan gram tersebut dapat menghasilkan warna merah dan ungu. Bakteri gram negatif ditandai dengan pewarnaan merah sedangkan yang positif bewarna ungu sampai biru (Dwidjoseputro, 2003).
 Jenis Zat yang Digunakan dalam Pewarnaan
Pewarnaan gram menggunakan 4 macam zat warna yaitu (Dwidjoseputro, 2003):
1.    Kristal violet
Zat warna primer ini digunakan pada tahap pertama dan akan mewarnai semua sel bakteri menjadi warana ungu.
2.    Lugol (larutan mordan)
Reagen ini berguna sebagi mordan, yaitu suatu substansi yang akan meningkatkan afinitas sel bakteri terhadap zat warna dengan cara berikatan dengan zat warna primer sehingga membentuk kompleks yang tidak larut.
3.    Alkohol
Reagen ini merupakan reagen dekolorisasi. Kerja reagen ini ditentukan oleh konsentrasi lipid dan ketebalan lapisa peptidoglikan pada dinding sel bakteri. Pada bakteri gram negative,alcohol akan melarutkan lipid pada lapisan luar dinding sel. Dan karena lapisan peptidoglikan dinding sel bakteri gram negative tipis, maka kompleks kristal/gentian violet dengan lugol akan mudah terlepas sehingga sel bakteri gram negative menjadi tidak bewarna kembali. Pada bakteri gram positive, lapisan peptidoglikannya lebih tebal sehingga kompleks zat warna primer + lugolakan sulit terlepas dan sel bakteri akan tetap bewarna ungu.
4.    Air fuchsin atau safranin sebagai counterstain
Zat warna ini akan mewarnai sel bakteri yang sudah tidak bewarna akibat proses dekolorisasi tadi menjadi terwarna merah.Karena hanya sel bakteri gram negative yang mengalami dekolorisasi, maka golongan bakteri ini akan mengabsorbsi counterstain ini sedangkan sel bakteri gram positif akan tetap bewarna ungu (sesuai zat primer).
Faktor Yang Mempengaruhi Pewarnaan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, pelunturan warna, substrat, intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat penutup. Suatu preparat yang sudah meresap suatu zat warna, kemudian dicuci dengan asam encer maka semua zat warna terhapus. Sebaliknya terdapat preparat yang tahan terhadap asam encer. Bakteri-bakteri seperti ini dinamakan bakteri tahan asam, dan hal ini merupakan ciri yang khas bagi suatu spesies (Lubis, 2008).
Macam-Macam Pewarnaan
Macam-macam pewarnaan (Lubis, 2008) :
1.    Pewarnaan sederhana
Disebut sederhana karena hanya menggunakan satu jenis zat warna untuk mewarnai organisme tersebut. Zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkolin seperti : Metilen Biru, Kristal Violet dan Karbol Fuchsin
2.    Pewarnaan tahan asam
3.    Pewarnaan struktural
Pewarnaan struktural hanya mewarnai satu bagian dari sel sehingga dapat membedakan bagian-bagian dari sel. Termasuk dalam pewarnaan ini adalah pewarnaan endospora, flagella, dan kapsul;
4.    Pewarnaan differensial.
Pemberian warna pada bakteri atau jasad renik lain dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarnaan pada lapisan tipis, atau olesan, menampilkan perbadaan diantara sel-sel mikroba atau bagian-bagian sel mikroba disebut teknik pewarnaan diferensial.
Tujuan Pewarnaan
Tujuan dari pewarnaan ini adalah untuk memudahkan melihat bakteri dengan mikroskop, memperjelas ukuran dan bentuk bakteri, untuk melihat struktur luar dan struktur dalam bakteri seperti dinding sel vakuola, menghasilkan sifat-sifat fisik dan kimia yang khas dari pada bakteri dengan zat warna, serta meningkatkan kontras mikroorganisme dengan sekitarnya (Syaputra, 2009).


DAFTAR PUSTAKA
Diandi, A. 2010. Pewarnaan Gram Positif. http://blogkita.info. Tanggal akses: 1 September 2014
Dwidjoseputro, D. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta
Lubis, H. 2008. Pewarnaan Gram Positif dan Gram Negatif. http://1heartfoods.Wordpress.com/category/. Tanggal akses: 1 September 2014
Syaputra, Y. 2009. Karakteristik Pewarnaan Gram. http://blogkita.Info. Tanggal akses: 30 Agustus 2014

Tryana, S.T. 2008. Bakteri. http://mybioblog.blogspot.com. Tanggal akses 30 Agustus 2014

Sabtu, 15 November 2014

ISOLASI MIKROBA

Mikroba Tanah
Mikroba terkecil dan paling banyak terdapat di tanah adalah bakteri. Masing-masing mikroba memiliki peran dan kemampuan tersendiri. Sebagian besar tinggal di 10 cm atas tanah dimana bahan organik hadir (Ugama, 2010).
Beberapa spesies bakteri sangat rapuh dan dapat dibunuh oleh perubahan-perubahan kecil dalam lingkungan tanah. Populasi mikroba bias boom atau bust dalam waktu beberapa hari untuk menanggapi perubahan kelembaban tanah, suhu tanah atau substrat Karbon. Untuk mendapatkan keuntungan dalam proses ini, banyak mikroba melepaskan zat antibiotik untuk menekan pesaing tertentu. Dengan cara ini beberapa spesies dapat menekan mikroorganisme penyebab penyakit lainnya (Ugama, 2010).
Meskipun tidak akan terpengaruh oleh budidaya, bakteri populasi yang tertekan oleh kondisi kering, keasaman, salinitas, dan kurangnya bahan organik. Kecuali dalam hal inokulasi benih tertentu, sangat sulit untuk membangun populasi yang diinginkan dari bakteri hanya dengan menambahkan mereka ke tanah. Jika populasi bakteri tanah yang rendah, itu mungkin karena kondisi yang tidak menguntungkan, sehingga setiap penambahan baru cenderung mengalami nasib yang sama. Pendekatan yang lebih efektif untuk manajemen bakteri adalah (Ugama, 2010) :
1.    Mengatasi masalah kesehatan ;
2.    Memastikan bahwa ada tanah yang baik penutup rumput atau mulsa;
3.    Membangun bahan organik melalui praktek-praktek seperti tanaman pupuk hijau, mulsa, penggembalaan strategis dan persiapan lahan minimum.
 Mikroba Air
Air merupakan materi penting dalam kehidupan. Semua makhluk hidup membutuhkan air. Dari sejumlah 40 juta milkubik air yang berada di permukaan dan di dalam tanah, ternyata tidak lebih dari 0,5% (0,2 juta mil-kubik) yang dapat digunakan secara langsung untuk kepentingan manusia. Karena dari jumlah 40 juta mil-kubik, 97% terdiri dari air laut dan jenis air lain yang berkadar-garam tinggi, 2,5% berbentuk salju dan es-abadi yang dalam keadaan mencair baru dapat dipergunakan secara langsung oleh manusia (Hamdiyati, 2012).
Air yang kita gunakan untuk keperluan sehari-hari mengandung berbagai jenis mikroba (patogen dan nonpatogen) di dalamnya. Seiring dengan berkembangnya industri, penduduk dan luasnya areal pemukiman, ketersediaan akan air bersih yang layak diminum semakin langka. Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menilai kelayakan/kualitas air unuk menjadi air minum adalah jenis bakteri yang terkandung di dalamnya (Hamdiyati, 2012).
Pemakaian air sungai sebagai air minum masih tergolong aman digunakan apabila mikroorganisme yang terkandung di dalamnya tidak bersifat patogen. Air minum yang tercemar oleh kuman dapat menjadi wabah penyakit usus. Salah satu metode pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan monitoring kualitas air secara mikrobiologik sebelum dijadikan sebagai sumber air minum (Hamdiyati, 2012).
 Isolasi Mikroba
Isolasi merupakan cara untuk memisahkan atau memindahkan mikroba tertentu dari lingkungan, sehingga diperoleh kultur murni atau biakan murni. Kultur murni ialah kultur yang sel-sel mikrobanya berasal dari pembelahan dari satu sel tunggal. Beberapa cara yang dilakukan untuk mengisolasi mikroorganisme antara lain cara goresan (streak plate), cara taburan/tuang (pour plate), cara sebar (spread plate), cara pengenceran (dilution plate) serta micromanipulator (Pelczar, 1988).
Medium pertumbuhan mikroba adalah salah satu bahan yang terdiri dari campuran Nitrogen yang diperlukan mikroba untuk pertumbuhannya. Dengan menggunakan medium pertumbuhan, aktifitas mikroba dapat dipelajari dan dengan medium tumbuh dapat dilakukan isolasi mikroba menjadi kultur murni, pembanyakan, pengujian sifat biologis, dan perhitungan jumlah mikroba (Pelczar, 1988).
Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan isolasi mikroba yaitu:
1.    Sifat dari setiap jenis mikroba yang akan diisolasi
2.    Tempat hidup atau asal mikroba tersebut
3.    Medium pertumbuhan yang sesuai
4.    Cara menginokulasi mikroba
5.    Cara menginkubasi mikroba
6.    Cara menguji bahwa mikrobia yang diisolasi telah berupa kultur murni dan sesuai dengan yang dimaksud
7.    Cara memelihara agar mikrobia yang telah diisolasi tetap merupakan kultur murni
Kultur murni atau biakan murni sangat berguna didalam mikrobiologi, yaitu untuk menelaah dan mengidentifikasi mikroorganisme, termasuk penelaahan ciri-ciri kultural, morfologis, fisiologis, maupun serologis, memerlukan suatu popolasi yang terdiri dari satu macam mikroorganisme saja (Hadioetomo, 1993).
Sifat organisme dalam suatu biakan murni dapat dipelajari dengan metode yang amat keras dengan hasil yang sangat akurat karena pengaruh sel hidup yang lain dapat ditiadakan (Volk,1993)
Terdapat berbagai cara mengisolasi mikroba, yaitu (Anonim A, 2009):
1.    Isolasi pada agar cawan
Prinsip pada metode isolasi pada agar cawan adalah mengencerkan mikroorganisme sehingga diperoleh individu spesies yang dapat dipisahkan dari organisme lainnya. Setiap koloni yang terpisah yang tampak pada cawan tersebut setelah inkubasi berasal dari satu sel tunggal. Terdapat beberapa cara dalam metode isolasi pada agar cawan, yaitu Metode gores kuadran, dan metode agar cawantuang. Bila metode gores kuadran dilakukan dengan baik maka akan menghasilkan terisolasinya mikroorganisme, dimana setiap koloni berasal dari satusel.
2.    Metode agar tuang
Berbeda dengan metode gores kuadran, cawan tuang menggunakan medium agar yang dicairkan dan didinginkan (50oC) yang kemudian dicawankan. Pengenceran tetap perlu dilakukan sehingga pada cawan yang terakhir mengandung koloni-koloni yang terpisah di atas permukaan atau di dalam cawan.

3.    Isolasi pada medium cair
Metode isolasi pada medium cair dilakukan bila mikroorganisme tidak dapat tumbuh pada agar cawan (medium padat), tetapi hanya dapat tumbuh pada kultur cair. Metode ini juga perlu dilakukan pengenceran dengan beberapa serial pengenceran. Semakin tinggi pengenceran peluang untuk mendapatkan satu sel semakin besar.
4.    Isolasi sel tunggal
Metode isolasi sel tunggal dilakukan untuk mengisolasi sel mikroorganisme berukuran besar yang tidak dapat diisolasi dengan metode agar cawan/medium cair. Sel mikroorganisme dilihat dengan menggunakan perbesaran sekitar 100 kali. Kemudian sel tersebut dipisahkan dengan menggunakan pipet kapiler yang sangat halus ataupun mikromanipulator yang dilakukan secara aseptis.
Ada beberapa metode yang  biasanya dilakukan untuk inokulasi di dalam medium diantaranya adalah (Anonim, 2010):
1.    Metode cawan gores
Metode ini punya dua keuntungan yaitu menghemat bahan dan waktu. Namun untuk memperoleh hasil yang baik diperlukan keterampilan. Metode cawan gores yang dilakukan dengan baik kebanyakan akan menyebabkan terisolasinya mikroorganisme yang diinginkan. Dua macam kesalahn yang umum sekali dilakukan adalah tidak memanfaatkan permukaan medium sebaik-baiknya untuk digores sehingga pengenceran mikroorganisme menjadi kurang lanjut dan cenderung untuk menggunakan inokulum terlalu banyak sehingga menyulitkan pemisahan sel-sel yang digores.
2.    Metode cawan tuang

Cara lain untuk memperoleh  biakan koloni murni dari populasi campuran mikroorganisme ialah dengan mengencerkan eksperimen dalam medium agar yang telah dicairkan dan didinginkan dan kemudian dicawankan. Metode ini memboroskan waktu dan bahan dan tidak memerlukan keterampilan yang terlalu tinggi.


DAFTAR PUSTAKA
Baker Fj, Silverton RE, 1986. Microssopy and Microbiology. London: Saunder Collage Publishing
Buckle, K.A. 1987. Ilmu Pangan. Jakarta: Universitas Indonesia
Budiarti, LiaYulia. 2009. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Terintegrasi. Banjarbaru: Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat
Hadietomo, R. S. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: PT Gramedia
Pelczar, Jr et al. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Universitas Indonesia (UI Press)
Volk & Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar. Jakarta: Erlangga

Rabu, 29 Oktober 2014

Identifikasi Jamur

Fungi atau cendawan adalah organisme heterotrofik mereka memerlukan senyawa organik sebagai sumber nutrisinya. Bila mereka hidup dari benda organik mati yang terlarut, mereka disebut saprofit yang menghancurkan sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang kompleks, menguraikannya menjadi zat-zat kimia yang lebih sederhana, yang kemudian dikembalikan ke dalam tanah, dan selanjutnya meningkatkan kesuburannya. Jadi jamur dapat sangat menguntungkan bagi manusia. Sebaliknya, mereka juga dapat merugikan kita bilamana membusukkan kayu, tekstil, makanan dan bahan-bahan lain. Fungi memiliki sel eukariotik. Fungi tak dapat membuat makanannya sendiri. Cara makannya bersifat heterotrof, yaitu menyerap zat organik dari lingkungannya sehingga hidupnya bersifat parasit dan saprofit. Kelompok ini terdiri dari semua jamur, kecuali jamur lendir (Myxomycota) dan jamur air (Oomycota). Beberapa kelompok kelas antara lain kelas Myxomycetes (jamur lendes) contohnya Physarum policephalius. Kelas Phycomycetes (jamur ganggang) contoh nya jamur tempe (Rhizopus oryzae, mucor mue) (Trisno, 2011).
Jamur merupakan kelompok organism eukariotik yang membentuk dunia jamur atau regnum fungi. Jamur pada umumnya multiseluler (bersel banyak). Ciri-ciri jamur berbeda dengan organism lainnya dalam hal cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan, dan reproduksinya (Anonymous A, 2011):
1.    Struktur tubuh
Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya. Ada jamur yang satu sel, misalnya khamir, ada pula jamur yang multiseluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter, contohnya jamur kayu. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah.

2.    Cara Makandan Habitat Jamur
Semua jenis jamur bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organism lainnya, jamur tidak memangsa dan mencernakan makanan. Untuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk glikogen. Oleh karena jamur merupakan konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit.
3.    Pertumbuhan dan Reproduksi
Reproduksi jamur dapat secara seksual (generatif) dan aseksual (vegetatif). Secara aseksual, jamur menghasilkan spora. Spora jamur berbeda-beda bentuk dan ukurannya dan biasanya uniseluler, tetapi ada pula yang multiseluler.
Klasifikasi Jamur
Dalam klasifikasi lima kingdom, jamur dapat dibedakan menjadi divisi Zygomycota, Ascomycota, Basidiomycota, dan Deuteromycota. Myxomycota dan Oomycota termasuk dalam kingdom Protista, Sedangkan jika jamur dibagi menjadi 6 divisi, pembagiannya antara lain (Anonymous B, 2009):
1.    Oomycotina
Hifa pada jamur ini bersifat senositik, yaitu tidak bersekat-sekat sehingga inti sel banyak tersebar di dalam protoplasma. Dinding selnya tersusun atas selulosa, hal inilah yang membedakan dengan golongan jamur lainnya.  Pertumbuhan hifa jamur terjadi pada bagian ujungnya yang menghasilkan beberapa percabangan. Pada akhir ujung percabangan itu terbentuk gelembung sporangium yang dipisahkan oleh sekat. Hal ini merupakan awal perkembangbiakan jamur secara aseksual. Jenis jamur yang termasuk Oomycotina adalah Saprolegnia sp, Phytophtora sp, dan Phytium sp.
Dalam sporangium terdapat protoplasma yang banyak mengandung inti sel. Protoplasma akan terbagi-bagi dan setiap bagian memperoleh satu inti sel yang berkembang menjadi spora dengan dua flagel sebagai alat geraknya. Spora yang mempunyai flagel disebut zoospora yang merupakan ciri khas Oomycotina. Selanjutnya, zoospora akan keluar dari sporangium kemudian melepaskan flagelnya sambil membentuk dinding selulosa. Jika zoospora ini sampai di tempat yang sesuai, maka akan menjadi tumbuh hifa baru.
Ciri-ciri jamur yang termasuk golongan Oomycotina adalah sebagai berikut.
1.    Hifa tidak bersekat.
2.    Reproduksi aseksual dengan zoospora yang mempunyai dua flagel.
3.   Reroduksi seksual dengan bersatunya gamet betina dan gamet jantan membentuk oospora (sel telur yang telah dibuahi membentuk dinding yang tebal) kemudian memasuki periode istirahat.
2.    Zygomycotina
Jamur ini hidup sebagai saprofit atau parasit. Sebagai jamur parasit dapat menyebabkan pembusukan tanaman ubi jalar dan buah arbei, sedangkan sebagai jamur saprofit dapat hidup pada roti, nasi, dan wortel. Perlu diketahui bahwa jamur saprofit ini sangat bermanfaat dalam fermentasi pembuatan tempe. Jenis jamur yang termasuk Zygomycotina adalah Rhizopus stolonifer yang dapat diamati dengan menggunakan mikroskop
Hifa yang menyusun jamur ini bersifat senositik (tidak bersekat-sekat sehingga inti sel banyak tersebar di dalam protoplasma), sedangkan dinding selnya tersusun dari kitin (sejenis karbohidrat mengandung nitrogen). Contoh jenis jamur Zygomycotina yang mudah diperoleh adalah jamur tempe dan jamur roti. Hifa kedua jenis jamur ini pendek bercabang-cabang dan berfungsi sebagai akar (rizoid) untuk melekatkan diri serta menyerap zat-zat yang diperlukan dari substrat. Selain itu, terdapat pula sporangiofor (hifa yang mencuat ke udara dan mengandung banyak inti sel, di bagian ujungnya terbentuk sporangium (sebagai penghasil spora), serta terdapat stolon (hifa yang berdiameter lebih besar daripada rizoid dan sporangiofor).
3.     Ascomycotina
Sebagian besar dari jamur yang termasuk golongan Ascomycotina mempunyai hifa bersekat-sekat dan bercabang-cabang. Selain itu, terdapat jenis jamur yang mempunyai hifa berlubang sehingga protopolasma dan inti sel dapat mengalir dari satu sel ke sel lainnya. Struktur tubuh jamur dari golongan Ascomycotina ada yang multiseluler atau uniseluler seperti pada ragi.
Ascomycotina merupakan kelompok jamur yang terbesar, ada yang hidup parasit atau saprofit. Jamur yang hidup sebagai parasit, dapat menimbulkan penyakit yang sangat merugikan seperti pada tanaman tembakau, pepaya, karet, teh, cokelat, dan padi. Sedangkan jamur saprofit hidup pada bahan makanan atau sampah. Beberapa jenis jamur Ascomycotina yang bermanfaat bagi manusia adalah Saccharomyces sp, Penicillium sp, Aspergillus sp dan Neurospora sp.
4.    Deutromycetes
Kelompok jamur ini disebut jamur tidak sempurna, karena cara perkembangbiakan generatifnya belum jelas. Contoh jamur tidak sempurna adalah jamur oncom.
5.    Basidiomycota
Kelompok jamur ini memiliki hifa yang bersekat-sekat. Contoh basidiomycota adalah jamur merang.
6.    Lichenes
Lumut kerak sebenarnya adalah dua jenis makhluk hidup yang saling bersimbiosis. Kedua jenis makhluk hidup tersebut adalah ganggang hijau biru dan jamur dari kelompok Ascomycota.
Peranan Jamur
Peranan jamur dalam kehidupan manusia sangat beragam, baik peran yang merugikan maupun yang menguntungkan. Jamur yang menguntungkan meliputi berbagai jenis diantara sebagai berikut (Sari, 2011) :
1.    Volvariella valvacea (jamur merang) berguna sebagai bahn pangan berprotein tinggi.
2.    Rhizopus dan Mucor berguna dalam industri bahan makanan yaitu dalam pembuatan tempe dan oncom
3.    Penicillium natatum berguna sebagai penghasil antibiotik.
Jamur yang merugikan meliputi beberapa jenis diantaranya sebagai berikut (Sari, 2011) :
1.    Phytium sebagai hama bibit tanaman yang menyebabkan penyakit rebah semai
2.    Phythophthora infestan menyebabkan penyakit pada daun tanaman kentang

3.    Pneumonia carinii menyebabkan penyakit pneunomia pada paru-paru manusia.

DAFTAR PUSTAKA
Pelczar, Jr et al. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Universitas Indonesia
(UI Press)
Trisno, Aryansyah. 2011. Klasifikasi Jamur. http//aryansyah.wordpress.com/. Diakses tanggal  22 September 2014
Volk & Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar. Jakarta : Erlangga